Monday, 16 November 2015

Tugas 2 (Softskill) "Etika Profesi Akuntansi"



KERANGKA KONSEPTUAL AKUNTANSI

 

A.   Prinsip Akuntansi Yang Berlaku Umum
Prinsip Akuntansi yang berlaku umum merupakan suatu urutan atau hirarki ketentuan-ketentuan yang mengatur mengenai perlakuan akuntansi yang dapat dijadikan sebagai acuan pencatatan suatu transaksi. Ketentuan-ketentuan tersebut biasanya disusun dari suatu pengaturan yang merupakan ketentuan konseptual yang bersifat filosofis hingga ketentuan yang bersifat praktis dan teknis. Prinsip-prinsip tersebut biasanya digambarkan dalam bentuk bagan yang menyerupai suatu bangun rumah. Dewan Standar Akuntansi Keuangan telah mengembangkan dua rerangka Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum di Indonesia yaitu :

  • Rerangka Prinsip Akuntansi Konvensional yang Berlaku umum
  • Rerangka Prinsip Akuntansi Syariah yang Berlaku Umum



( Sumber : Standar Akuntansi Keuangan per 1 september 2007 )

Rerangka prinsip akuntansi yang berlaku umum (Rerangka) merupakan bangunan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Landasan konseptual yang berisi Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan keuangan (KDPPLK) adalah konsep yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan untuk tujuan umum. KDPPLK menjadi acuan penyusunan standar akuntansi dalam pelaksanaan tugasnya. Acuan penyusunan laporan keuangan untuk menanggulangi masalah akuntansi belum diatur dalam standar akuntansi keuangan. Acuan Auditor dalam memberikan pendapat mengenai apakan laporan keuangan disusun sesuai dengan standar akuntansi keuangan.
Landasan operasional merupakan pengaturan yang lebih detail yang menjadi tingkat 1, 2, dan 3. Jika tidak ada suatu pengaturan tertentu di tingkat 1, maka digunakan pengaturan yang ada di tingkat 2, dan seterusnya. Sepanjang pengaturan tersebut tidak bertentangan dengan landasan konseptual atau prinsip yang digunakan di Landasan Operasional.
Rerangka tersebut dibaca dari bawah untuk landasan operasional. Lapisan yang ada di bawah merupakan landasan untuk lapisan diatasnya. Jika ketentuan yang ada suatu lapisan bertentangan dengan lapisan yang ada dibawahnya, maka ketentuan yang ada di lapisan bawah tersebut digunakan.

B.   Kerangka Konseptual Akuntansi
Profesi akuntansi telah menciptakan seperangkat standar dan aturan yang diakui secara umum sebagai pedoman dalam pelaporan akuntansi, yang dinamakan prinsip akuntansi yang diterima secara umum (Generally Accepted Accounting Principles, GAAP). Kemudian, guna mewadahi berbagai kritik dan perkembangan yang terjadi dalam penyelesaian dan pelaporan akuntansi, Dewan Akuntansi Keuangan (Financial Accounting Standard Board, FASB) mengembangkan sebuah kerangka kerja konseptual akuntansi (Conceptual Framework of Accounting), kerangka ini berfungsi sebagai dasar untuk memecahkan masalah-masalah akuntansi dan pelaporan. Kerangka konseptual FASB mencakup empat bagian sebagai berikut :

  1. Tujuan - tujuan pelaporan keuangan,
  2. Karakteristik - karakteristik kualitatif informasi akuntansi,
  3. Elemen - elemen laporan keuangan,
  4. Panduan - panduan pengoperasian (asumsi, prinsip, dan kendala)

Kerangka kerja konseptual  adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas - batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan.
 
Tujuan Kerangka Konseptual:

  1. Memungkinkan FASB / IAPI menerbitkan standar - standar yang lebih berguna dan konsisten dari waktu ke waktu
  2. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan meningkatkan komparabilitas antar laporan keuangan.
  3. Dengan bantuan kerangka kerja konseptual para akuntan praktisi diharapkan dapat mengesampingkan alternative - alternatif tertentu secara cepat dan kemudian berfokus pada perlakuan yang rasional dan dapat diterima (standar yang merujuk pada conceptual framework).
  4. Masalah - masalah praktis yang baru muncul, sehingga dapat dengan cepat dipecahkan dengan referensi kerangka teori dasar yang sudah ada.


                         Kerangka Konseptual Akuntansi
                         (Sumber : elearning.gunadarma.ac.id)







Kerangka kerja konseptual akuntansi terdiri atas 4 unsur, yaitu :
  1. Level Pertama ( Tujuan Laporan Keuangan)
FASB mulai bekerja dengan kerangka konseptual dengan melihat pada tujuan - tujuan dasar dari pelaporan keuangan. Menentukan tujuan - tujuan ini memerlukan jawaban atas beberapa pertanyaan dasar seperti :
·         siapa yang menggunakan laporan keuangan?,
·         mengapa?,
·         informasi apa saja yang mereka butuhkan?,
·         seberapa mengertikah pengguna laporan keuangan mengenai bisnis dan akuntansi?,
·       bagaimana seharusnya informasi keuangan dilaporkan sehingga dapat dimengerti sebaik  mungkin?. 

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, FASB menyimpulkan bahwa tujuan dari pelaporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang :
a.        Berguna bagi mereka yang membuat keputusan investasi dan kredit.
b.       Membantu dalam memperkirakan arus kas dimasa yang akan datang.  
c.   Mengidentifikasikan sumber daya ekonomi (asset), klaim atas sumber daya tersebut (kewajiban), serta perubahan pada sumber daya dan klaim tersebut.
 
            2. Level Kedua (Karakteristik Mutu Informasi dan Elemen Laporan Keuangan)
            Karakteristik kualitatif dari informasi akuntansi
FASB menyimpulkan bahwa kriteria - kriteria yang menguasai untuk pilihan akuntansi adalah kegunaan informasi. Praktik akuntansi yang dipilih seharusnya adalah praktik yang memberikan informasi keuangan berguna paling banyak untuk membuat sebuah keputusan. Agar informasi berguna bagi pengambilan keputusan, maka informasi harus memiliki karakteristik - karakteristik kualitatif berikut:
a.       Relevansi (Relevance)
Informasi akuntansi memiliki relevansi (relevance) jika dapat membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi yang relevan memiliki nilai prediktif atau nilai umpan balik maupun keduanya. Nilai prediktif (predictive value) membantu pengguna meramalkan kejadian-kejadian dimasa datang. Nilai umpan balik ( feedback value) menguatkan atau memperbaiki ekspektasi sebelumnya. Selain itu, informasi akuntansi memiliki relevansi jika dianggap tepat waktu (timely). Informasi tersebut harus tersedia bagi pembuat keputusan sebelum ia kehilangan kemampuannya mempengaruhi keputusan.
b.      Dapat Diandalkan (Reliability)
Kesalahan dan reliabilitas informasi berarti informasi itu terbebas dari kesalahan dan tidak bias. Agar dapat diandalkan, informasi akuntansi harus diverivikasi, agar dapat membuktikan bahwa informasi tersebut terbebas dari kesalahan dan tidak bias. Informasi tersebut juga harus merupakan penyajian yang jujur atas apa yang seharusnya dengan berdasarkan fakta - fakta yang ada. Terakhir, Informasi harus netral dimana informasi tersebut tidak boleh dipilih, dibuat, atau disajikan sesuai keinginan sekelompok pengguna yang berkepentingan diatas yang lainnya. Untuk menjamin keandalan, akuntan publik bersertifikat melakukan audit terhadap laporan keuangan.
c.       Dapat Dibandingkan (Comparability)
Informasi akuntansi tentang perusahaan paling berguna ketika dapat dibandingkan dengan informasi akuntansi tentang perusahaan lainnya. Perbandingan atau komparabilitas dihasilkan ketika perusahaan-perusahaan yang berbeda menggunakan prinsip-prinsip akuntansi yang sama. Secara konseptual, perbandingan juga harus memperluas metode yang digunakan oleh perusahaan dalam mematuhi prinsip-prinsip akuntansi. Metode-metode akuntansi mencakup biaya persediaan FIFO, LIFO serta berbagai metode depresiasi (penyusutan). Pada titik ini, perbandingan metode tidak diperlukan, bahkan untuk perusahaan-perusahaan pada industry yang sama. Satu-satunya kebutuhan akuntansi adalah setiap perusahaan harus mengungkapkan metode-metode akuntansi yang digunakan. Dengan pengungkapan tersebut, pengguna eksternal dapat menentukan apakah informasi keuangan dapat dibandingkan.
d.      Konsistensi (Consistency)
Konsistensi berarti sebuah perusahaan menggunakan prinsip-prinsip dan metode - metode akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Ketika informasi keuangan telah dilaporkan secara konsisten, laporan keuangan memperbolehkan analisis tren yang berarti dalam perusahaan.


 (Sumber : Accounting Principles, Buku Pengantar Akuntansi)

Elemen Statemen Keuangan
Bagian yang penting dari kerangka konseptual akuntansi adalah seperangkat definisi yang mengambarkan istilah-istilah dasar yang digunakan dalam akuntansi. FASB mengacu pada seperangkat definisi ini sebagai elemen-elemen laporan keuangan (elements of financial statement). Elemen - elemen ini mencakup beberapa istilah seperti :
a.       Harta (assets)
b.      Kewajiban (liabilities)
c.       Modal pemilik (net asserts)
d.      Investasi oleh pemilik (distribution by owners)
e.       Distribusi kepada pemilik (distribution to owners)
f.       Pendapatan (revenue)
g.      Biaya (expense)
h.      Laba komprehensif (comprehensive income)
i.        Laba (gain)
j.        Rugi (loss)
Oleh karena itu elemen-elemen yang sangat penting, menjadi penting bahwa mereka harus dibatasi dengan tepat dan diterapkan secara universal. Menentukan definisi yang pantas untuk sebagian besar dari elemen ini tidaklah mudah.
 
            3.   Level Ketiga (Asumsi, Prinsip, Kendala)
Pada kerangka konseptual, FASB mengakui kebutuhan akan panduan pengoperasian. Kita mengelompokan tiga panduan sebagai asumsi, prinsip, dan kendala akuntansi.
a.      Asumsi – Asumsi Akuntansi
Asumsi (assumption) merupakan dasar bagi bagi proses akuntansi.
·         Asumsi Unit Moneter
Asumsi unit moneter merupakan asumsi bahwa unit pengukuran relative tetap konstan seiring waktu.
·         Asumsi Entitas Ekonomi
Asumsi Entitas Ekonomi menyatakan bahwa aktivitas entitas harus dijaga terpisah dan berbeda dari aktivitas pemiliknya dan seluruh entitas ekonomi lainnya.
·         Asumsi Periode Waktu
Asumsi Periode Waktu menyatakan bahwa umur ekonomis dari sebuah bisnis dapat dibagi kedalam periode waktu buatan.
·         Asumsi Kelangsungan Usaha
Asumsi Kelangsungan Usaha mengasumsikan bahwa perusahaan akan meneruskan kegiatan operasionalnya cukup lama untuk menjalanka tujuan - tujuan yang ada.


                        (Sumber : Accounting Principles, Buku Pengantar Akuntansi)

b.      Prinsip - Prinsip Akuntansi
Prinsip (Principle) adalah aturan khusus yang mengundikasikan bagaimana kejadian-kejadian ekonomi harus dilaporkan dalam proses akuntansi.
·         Prinsip Pengakuan Pendapatan
Prinsip Pengakuan Pendapatan menyebutkan bahwa pendapatan harus diakui pada periode akuntansi saat pendapatan dihasikan. Namun demikian, menerapkan prinsip umum ini pada praktiknya terbilang sulit. Ketika terjadi penjualan, pendapatan diakui pada saat penjualan. Dasar penjualan ini melibatkan transaksi pertukaran antara penjual dan pembeli. Harga jual adalah pengukura objektif atas jumlah pendapatan yang diakui. Meskipun demikian, terdapat 2 pengecualian terhadap dasar penjualan untuk pengukuran pendapatan yang berlaku umum. Pengecualian tersebut adalah metode presentase penyelesaian dan metode angsuran.
·         Prinsip Penandingan (Pengakuan Beban)
Prinsip ini menyatakan bahwa beban harus dikaitkan dengan pendapatan pada periode dimana usaha untuk memperoleh pendapatana dilakukan. Beban tidak diakui ketika kas dibayarkan, atau ketika pekerjaan dilakukan, atau ketika barang diproduksi. Tetapi, beban diakui ketika tenaga kerja (jasa) atau barang benar - benar berkontribusi terhadap pendapatan. Biaya yang akan menghasilkan pendapatan pada periode akuntansi dimasa yang akan datang diakui sebagai asset. Contohnya antara lain persediaan barang dagang, beban dibayar dimuka, dan asset pabrik. Biaya - biaya ini disebut Harga perolehan (biaya) yang belum kadaluawarsa. Biaya perolehan yang belum kadaluwarsa berubah menjadi beban dengan cara Harga Pokok Penjualan dan Beban Operasional.
·         Prinsip Pengungkapan Penuh
Prinsip Pengungkapan Penuh mengharuskan kondisi - kondisi dan kejadian - kejadian yang membuat perbedaan terhadap pengguna laporan keuangan harus diungkapkan. Kepatuhan terhadap prinsip pengungkapan penuh dilihat dari data pada laporan keuangan dan informasi pada catatan atas laporan keuangan. Catatan pertama di kebanyakan kasus adalah ringkasan kebijakan - kebijakan akuntansi yang signifikan. Termasuk juga di dalamnya, antara lain metode - metode yang digunakan untuk biaya persediaan, depresiasi, asset pabrik dan amortisasi asset tidak berwujud.
·         Prinsip Biaya
Prinsip biaya menyatakan bahwa asset harus dicatat pada biayanya. Biaya digunakan karena biaya tersebut relevan dan andal. Biaya disebut relevan karena menunjukan harga yang dibayar, asset yang dikorbankan, dan kesepakatan yang dibuat pada tanggal perolehan. Biaya disebut andal karena keterukurannya yang objektif, berdasarkan fakta dan dapat diverifikasi. Biaya juga merupakan hasil dari transaksi pertukaran. Biaya adalah dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.

(Sumber : Accounting Principles, Buku Pengantar Akuntansi)

c.       Kendala - Kendala Akuntansi
Kendala (constraint) dalam proes akuntansi memungkinkan penyimpangan prinsip - prinsip tersebut dibawah kondisi-kondisi tertentu.
·         Materialitas
Materialitas berkaitan dengan dampak suatu pos terhadap kondisi keuangan dan operasional perusahaan secara keseluruhan. Suatu pos dikatakan material ketika memiliki kemungkinan untuk mempengaruhi keputusan investor dan kreditur yang jujur. Pos tersebut menjadi tidak material jika tidak memiliki dampak terhadap pembuat keputusan. Pendek kata, jika pos tersebut tidak membuat perbedaan pada pembuat keputusan, GAAP tidak harus diikuti. Untuk menentukan materialitas dari jumlah, akuntan biasanya membandingkannya dengan pos tertentu seperti total asset, total kewajiban, dan laba bersih.
·         Konservatisme
Konservatisme menyatakan bahwa ketika anda berada dalam keraguan, sebaiknya anda memiliki metode yang tampaknya paling tidak mungkin untuk menyajikan terlalu tinggi asset dan laba. Hal ini bukan berarti asset dan laba disajikan terlalu rendah. Conservative memberikan panduan yang beralasan untuk situasi - situasi sulit : jangan pernah menyajikan terlalu tinggi atas asset dan laba.

(Sumber : Accounting Principles, Buku Pengantar Akuntansi)

Referensi :
Weygandt, Jerry J.,Kieso, Donald E., dan Kimmel, Paul D. 2008. Pengantar Akuntansi, edisi 7. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.
Ikatan Akuntan Indonesia. 2007. Standar Akuntansi Keuangan Per 1 September 2007. Jakarta :  Penerbit Salemba Empat.
Akuntansi Keuangan dasar 2 Edisi Ketiga. Wibowo, 2003. Penerbit: Cikal Sakti  

Wednesday, 28 October 2015

Tugas 4 (Softskill) "Etika Profesi Akuntansi"

DILEMA BETASERON

Pada 23 juli 1995 Sebuah perusahaan bioteknologi di California yang bernama Chiron telah menghasilkan interferon beta-1b (nama merk betaseron) yang dikembangkan oleh laboratorium Berlex, sebuah unit Negara yang bersatu Schering AG perusahaan farmasi di Jerman. Berlex menangani perkembangan klinis, uji dan pemasaran obat. Negara- Negara bersatu makanan dan obat administrasi (FDA) menyetujui Interferon Beta-1b, menjadikan pengobatan pertama untuk penyakit Mutiple Sclerosis (MS) dan untuk mendapatkan persetujuan FDA dalam 25th. Persetujuan betaseron bukan hanya kesempatan yang besar untuk Berlex tetapi juga dilemma yang sulit. Dikarenakan persediaan yang tidak cukup untuk memenuhi permintaan awal dan kekurangan yang diperkirakan sampai tahun 1996.
Interferon Beta adalah protein yang terjadi secara alami dan mengatur sistem kekebalan tubuh. Betaseron terdiri dari interferon beta -1b yang telah direkayasa genetika dan laboratorium diproduksi sebagai produk rekombinan.
Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit dari sistem saraf pusat yang feres antar dengan kemampuan otak untuk mengontrol fungsi seperti melihat, berjalan dan berbicara. Serabut saraf dalam otak dan sumsum tulang belakang dikelilingi oleh myelin, Ketika isolasi myelin menjadi rusak, kemampuan sistem saraf pusat untuk mengirimkan impuls saraf ke dan dari otak menjadi terganggu. Dengan multiple sclerosis, ada sclerosed daerah di beberapa bagian dari otak dan sumsum tulang belakang (yaitu bekas luka atau mengeras) ketika sistem kekebalan tubuh secara keliru menyerang selubung myelin.
Dalam studi klinis, Betaseron terbukti mengurangi frekuensi dan keparahan eksaserbasi pada pasien rawat jalan MS dengan relaps sebuah – remisi dari penyakit. Itu tidak membalikkan kerusakan sudah dilakukan, juga tidak benar-benar mencegah eksaserbasi dari terjadi. Namun, Betaseron secara dramatis dapat meningkatkan kualitas hidup orang.
Pada juli 1993 FDA menerima permohnan izin dokter betaseron untuk menulis resep obat pada pasien MS dengan jumlah yang diperkirakan 1:3 dari 500.000 jiwa dengan Multiple Sclerosis. Tetapi FDA mempercepat izin proses pengambilan hanya 1 tahun yang biasanya 3 tahun untuk meninjau kembali penggunaan obat baru. Sebagai akibatnya Berlex tidak bersedia untuk menghasilkan dan mendistribusikan dalam jumlah yang dibutuhkan. Karena Badan hukum Chiron telah membuat obat dalam jumlah sedikit untuk pemakaian percobaan dan tidak mempunyai fasilitas pabrik untuk menjual permintaan dalam jumlah yang besar. Pada tahun 1993 Chiron hanya mampu menyediakan obat untuk 12.000-20.000 pasien. Dan pada akhir tahun 1994 Chiron hanya mampu menyediakan obat untuk 40.000 pasien.
Secara turun temurun obat yang dihasilkan oleh para ahli obat relatif mahal. Karena dalam kasus Betaseron, gen seorang manusia yang terkandung terdapat bakteri di dalamnya, hasil di dalam molekul genetiknya. Kualitas control dan prosedur yang kuat memakan waktu dan mahal. Akibatnya, harga betaseron mencapai hingga sekitar $10.000 per tahun untuk setiap pasiennya. Betaseron membawa harapan yang besar pada banyak orang dengan MS dan keragu-raguan yang tinggi pada Berlex.

1.      Bagaimana seharusnya Berlex mengatasi persediaan yang terbatas?
Seharusnya Berlex sudah merencanakan dari awal produksi berapa jumlah yang harus diproduksi dengan semua resiko yang terkandung di dalamnya. Selain itu, Berlex seharusnya sudah melakukan survey tehadap kondisi konsumen yang akan mengkonsumsi hasil produknya sehingga Berlex setidaknya dapat mencari solusi lain seperti misalnya membuat produk pengganti.

2.      Bagaimana seharusnya Berlex mengatasi distribusinya ?
Seharusnya Berlex memperbesar produksinya jika memang telah terbukti produknya dapat meningkatkan kualitas hidup seseorang selain itu Berlex lebih baik mengkalkulasi ulang seberapa banyak penderita yang memang benar-benar sangat membutuhkan obat hasil produksinya.

3.      Bagaimana seharusnya Berlex menentukan harga obat yang telah dihasilkan ?

Harga jual selayaknya harus sebanding dengan kualitas produknya. Selain itu Berlex juga sebaiknya harus tetap dapat mempertanggungjawabkan kegunaan obat tersebut sehingga konsumen tetap mempunyai kepercayaan akan produk tersebut.

Anggota Kelompok   : Anne Rahma Safitri     ( 20212947 )
                                     Canya Pramesthi          ( 21212552 )
Kelas                          : 4EB12